Maha Suci Dia, Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari
Masjid Haram ke Masjid Aqsha, yang telah Kami berkati, sekelilingnya
supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari Tanda-tanda Kami.
Sesungguhnya Dia, Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Surah al-Isra)
Ayat ini, yang nampaknya menyebut suatu kasyaf Rasulullah saw., telah
dianggap oleh sebagian ahli tafsir Alquran menunjuk kepada Mi’raj
(kenaikan rohani) beliau. Berlawanan dengan pendapat umum, kami
cenderung kepada pendapat, bahwa ayat ini membahas masalah Isra
(perjalanan rohani di waktu malam) Rasulullah saw. dari Mekkah ke
Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mi’raj beliau telah dibahas agak
terperinci dalam Surah An-Najm.
Semua kejadian yang disebut dalam Surah An-Najm (ayat-ayat 8 – 18)
yang telah diwahyu kan tidak lama sesudah hijrah ke Abessinia, yang
telah terjadi di bulan Rajab tahun ke 5 nabawi, diceriterakan secara
terperinci dalam buku-buku hadist yang membahas Miraj Rasulullah saw.,
sedang Isra Rasulullah saw. dari Mekkah ke Yerusalem, yang dibahas oleh
ayat ini, menurut Zurqani terjadi pada tahun ke-11 nabawi ; menurut Muir
dan beberapa pengarang Kristen lainnya pada tahun ke-12. Tetapi menurut
Mardawaih dan Ibn Sa’d, perintiwa Isra terjadi pada 17 Rabiul-awal,
setahun sebelum hijrah (Al-Khashaish al-Kubra) . Baihaqi pun
menceriterakan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum
hijrah.
Dengan demikian semua hadist yang bersangkutan dengan persoalan ini
menunjukkan, bahwa Isra itu terjadi setahun atau enam bulan sebelum
hijrah, yaitu kira-kita pada tahun ke-12 nabawi, setelah Siti Khadijah
wafat, yang terjadi pada tahun ke-10 nabawi, ketika Rasulullah saw.
tinggal bersama-sama dengan Ummi Hani, saudari sepupu beliau.
Tetapi Mi’raj, menurut pendapat sebagian terbesar ulama, terjadi
kira-kira pada tahun ke-5 nabawi. Dengan demikian dua kejadian itu
dipisahkan satu dengan yang lain oleh jarak waktu enam atau tujuh tahun,
dan oleh karenanya kedua kejadian itu tidak mungkin sama ; yang satu
harus dianggap berbeda dan terpisah dari yang lain. Lagi pula
peristiwa-peristiwa yang menurut hadist terjadi dalam Mi’raj Rasulullah
saw. sama sekali berbeda dalam sifatnya dengan peristiwa-peristiwa yang
terjadi dalam Isra. Secara sambil lalu dapat disebutkan di sini, bahwa
kedua peristiwa itu hanya kejadian-kejadian rohani belaka, dan
Rasulullah saw. tidak naik ke langit atau pergi ke Yerusalem dengan
tubuh kasar.
Kecuali kesaksian sejarah yang kuat ini, ada pula kejadian-kejadian
lain yang berkaitan dengan peristiwa itu mendukung pendapat, bahwa
kejadian itu sama sekali berbeda dan terpisah satu sama lain :
Alquran menguraikan kejadian Mi’raj Rasulullah saw. dalam surah 53,
tetapi sedikit pun tidak menyinggung Isra, sedang dalam Surah ini
Alquran membahas soal Isra, tetapi sedikit pun tidak menyinggung
peristiwa Mi’raj.
Ummi Hani, saudari sepupu Rasulullah saw. yang di rumahnya beliau
menginap pada malam peristiwa Isra terjadi, hanya membicarakan
perjalanan Rasulullah saw. ke Yerusalem, dan sama sekali tidak
menyinggung kenaikan beliau ke langit. Ummi Hani itu orang pertama yang
kepadanya Rasulullah saw. menceriterakan perjalanan beliau di waktu
malam ke Yerusalem, dan paling sedikit tujuh penghimpun riwayat-riwayat
hadist telah mengutip keterangan Ummi Hani mengenai kejadian ini, yang
bersum-ber pada empat perawi yang berlain-lainan. Semua perawi ini
sepakat, bahwa Rasulullah saw. berangkat ke Yerusalem dan pulang kembali
ke Mekkah pada malam itu juga.
Jika sekiranya Rasulullah saw. telah membicarakan pula kenaikan
beliau ke langit, tentu Ummi Hani tidak akan lupa menyebutkan hal ini
dalam salah satu riwayatnya. Tetapi beliau tidak menyebut hal itu dalam
satu riwayat pun ; dengan demikian menunjukkan dengan pasti , bahwa pada
malam yang bersangkutan itu Rasulullah saw. melakukan Isra hanya sampai
Yerusalem ; dan bahwa Mi’raj itu tidak terjadi pada ketika itu.
Nampaknya beberapa perawi hadist mencampur baurkan kedua peristiwa Isra
dan Mi’raj itu. Rupanya pikiran mereka dikacaukan persamaan yang
terdapat pada beberapa uraian terperinci mengenai Isra dan Mi’raj telah
menambah dan memperkuat pendapat mereka yang kacau balau itu.
Hadist-hadist yang mula-mula meriwayatkan perjalanan Rasulullah saw.
ke Yerusalem dan selanjutnya mengenai kenaikan beliau dari sana ke
langit, menyebut pula bahwa di Yerusa lem dan selanjutnya mengenai
kenaikan beliau dari sana ke langit, menyebut pula bahwa di Yerusalem
beliau bertemu dengan beberapa nabi terdahulu, termasuk Adam as.,
Ibrahim as., Musa as., dan Isa as. ; dan bahwa di berbagai petala langit
beliau menemui nabi-nabi yang itu-itu juga, tetapi tidak dapat mengenal
mereka. Bagaimanakah nabi-nabi tersebut, yang telah beliau jumpai di
Yerusalem, sampai pula ke langit sebelum beliau; dan mengapa beliau
tidak mengenali mereka, sedang beliau telah melihat mereka beberapa saat
sebelumnya dalam perjalanan itu-itu juga ? Tidaklah masuk akal, bahwa
beliau tidak dapat mengenal mereka, padahal hanya beberapa saat sebelum
itu, beliau bertemu dengan mereka dalam perjalanan itu juga.
Masjid Aqsha (masjid yang jauh) menunjuk kepada rumah peribadatan (kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman as. di Yerusalem.
Kasyaf Rasulullah saw. yang disebut dalam ayat ini mengandung suatu
nubuatan yang agung. Perjalanan beliau ke “Masjid Aqsha “ berarti hijrah
beliau ke Medinah, tempat beliau akan mendirikan suatu masjid, yang
ditakdirkan kelak akan menjadi masjid pusat Islam, dan penglihatan diri
beliau sendiri dalam kasyaf, bahwa beliau mengimani pada nabi lainnya
dalam shalat mengandung arti, bahwa agama baru, ialah Islam, tidak akan
terkurung di tempat kelahirannya saja, melainkan akan tersebar ke
seantero dunia, dan pengikut-pengikut dari semua agama akan
menggabungkan diri kepadanya.
Kepergian beliau ke Yerusalem dalam kasyaf dapat pula dianggap
mengandung arti, bahwa beliau akan diberi kekuasaan di masa khilafat
(kekhalifahan) Sayyidina Umar ra. Kasyaf ini dapat pula diartikan
sebagai petunjuk kepadasuatu perjalanan rohani Rasulullah saw. ke suatu
negara jauh, di suatu masa yang akan datang. Maksudnya bahwa ketika
kegelapan rohani akan menutupi seluruh dunia, Rasulullah saw. akan
muncul kembali secara rohani dalam wujud salah seorang pengikut beliau,
dalam satu negara yang sangat jauh dari tempat pertama beliau diutus.
ISRA’ DAN MASA DEPAN UMAT
Oleh ZA Khudori
Pemerhati Masalah-masalah Sosial Keagamaan
Tinggal di Tegineneng, Pesawaran (Lampung)
Kemajuan suatu kaum sesungguhnya telah dinubuatkan (direncanakan)
oleh Allah SWT. Termasuk umat Islam. Untuk melukiskan kemajuan umat
Islam, Allah SWT telah memperlihatkan sebuah pengalaman rohani yang
dikenal dengan istilah Israa’ (memperjalankan di malam hari). Al-Quran
mengabadikan pengalaman tersebut dalam Surat 17 (Al-Israa’/Bani Israil):
1, “’Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu
malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami
berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui”. Dalam muqaddimah Surat ini, Yayasan Penyelenggara
Penterjemah/Pentafsir Al-Quran (SK MENAGRI No. 26 Tahun 1967; Edisi
Baru, 1993) menyebutkan bahwa Surat ini dinamakan Al-Israa’ (yang
berarti ‘memperjalankan di malam hari’) berhubungan dengan peristiwa
Israa’ Nabi Muhammad SAW di Masjidil Haram (Mekkah) ke Mesjidil Aqsha
(di Baitul Makdis) dicantumkan pada ayat pertama dalam Surat ini.
Sejarah mencatat bahwa Muhammad bin Abdullah diangkat sebagai Nabi
dan diutus sebagai Rasul pada usia 40 tahun (610 M). Lima tahun pertama
dalam menjalankan tugasnya telah beriman sebagian kecil kaum Kafir
Quraisy. Para pengikut Nabi pada masa awal ini mendapat respon negatif
berupa intimidasi dan tindakan kekerasan dari keluarga dan kawan
sepermainan mereka. Atas izin Nabi akhirnya para sahabat itu hijrah ke
negeri tetangga, Habasyah (Ethiopia) [615 M]. Sebuah negeri yang
dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Seorang raja yang
memberikan kebebasan dan perlindungan kepada masyarakatnya dalam
menjalankan agama dan kepercayaannya.
Meskipun banyak hambatan dan rintangan, perkembangan ajaran Islam
terus maju. Istilahnya ‘padat-merayap’ dan ‘maju terus pantang mundur’.
Menyikapi hal ini para pembesar Quraisy mengambil sikap tegas yaitu
memboikot Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Caranya ialah dengan
memutuskan segala perhubungan: hubungan perkawinan, jual-beli,
ziarah-menziarahi dan lain-lain (Muqaddimah Al-Qur’an dan Terjemahnya:
1993: 62). Dalam masa pemboikotan ini wafat dua orang tercinta Nabi SAW:
Pamanda Abu Thalib (87) dan Istrinda Khadijah (65). Begitu berdukanya
Nabi sehingga tahun tersebut (620 M) oleh ahli sejarah dinamakan ‘Aamul
Huzni (Tahun Dukacita).
Untuk menenangkan hatinya maka Nabi tinggal bersama sepupunya, Ummu
Hani. Seperti reportase ahli sejarah kenamaan Ibnu Ishaq, sejarawan ini
melaporkan, “Telah sampai kepada saya dari Ummu Hani binti Abu Thalib
(nama aslinya: Hindun) mengenai perjalanan malam (Israa’) Nabi SAW.
Katanya, “Nabi SAW hanya mengadakan perjalanan ke Baitul Maqdis ketika
berada di rumah saya. Malam itu Nabi SAW tidur di rumah saya dan kami
semua sedang tidur” (Fuad Hasyem: 1898: 222).
Dalam keadaan tidur inilah beliau SAW melihat berbagai peritiwa yang
Nabi sendiri tuturkan (diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudriy), “Sudah
dikirimkan kepada saya seekor hewan dan ia menyerupai bighal (peranakan
kuda dengan keledai), Buraq namanya, dan biasa dikendarai oleh para
nabi. Buraq itu membawa saya dan ia bisa melangkahkan kaki depannya
sejauh mata memandang” (Taufik Rahman: 1990: 62).
Mengenai perjalanan selanjutnya, kita dapat membaca Hadits yang
diriwayatkan oleh Anas bin Malik (Ibnu Jarir Juz 15 hlm. 6). Mengingat
panjangnya riwayat tersebut maka ringkasannya ialah sebagai berikut:
Nabi dan Malaikat Jibril naik Buraq dari Masjid Al-Haran ke Masjid
Al-Aqsha. Dalam perjalanan tersebut beliau-beliau bertemu dengan:
seseorang yang memanggil-manggil Nabi, beberapa orang yang mengucapkan
salam dan beberapa orang lagi melakukan hal yang sama. Dan tibalah
beliau-beliau di Baitul Muqaddas. Lalu beliau memimpin shalat di mana
makmumnya ialah para nabi. Setelah itu Malaikat Jibril menghadapkan 3
gelas kepada Rasulullah SAW. Gelas pertama berisi air, gelas kedua
berisi arak dan gelas ketiga berisi susu. Rasulullah SAW mengambil gelas
berisi susu, lalu beliau meminumnya. Setelah itu Malaikat Jibril
menjelaskan apa saja makna yang tersirat dari apa yang telah beliau
lihat itu (baca: QS 17:60). Peristiwa itu terjadi pada malam 27 Rajab 11
Nubuwwah (setelah beliau diangkkat menjadi Nabi) [Muqaddimah Al-Qur’an
dan Terjemahnya: 1993: 63].
Riwayat di atas menimbulkan perdebatan theologies di kalangan Ahli
Kalam (Theolog Muslim) bahkan para sahabat sekalipun: Apakah perjalanan
itu secara fisik atau non-fisik (ru’yah [visi])? Selain umumnya umat
Islam mempercayai kejadian itu secara fisik ada juga yang mempercayainya
secara non-fisik, seperti ‘A’isyah RA misalnya, beliau mengatakan,
“Tubuh Rasul berada di tempatnya ketika Allah memindahkan ruhnya pada
malam itu.” Mu’awiyah juga katanya memberikan keterangan bahwa Israa’
itu betul-betul sebuah ru’yah dari Tuhan, demikian tulis Fuad Hashem.
Di luar kontroversi itu, ada pesan spiritual yang bijak dari Maulana
Rahmat Ali, “Jauhilah perselisihan dalam soal (Israa’ dan) Mi’raj
Rasulullah SAW. Serahkan saja hal itu kepada Allah SWT” (Miraj: 1949:
103).
Jauh lebih penting dari sekedar perdebatan theologis itu adalah bahwa
di balik peristiwa Israa’ itu ada motivasi dari Nabi bahwa masa depan
Islam itu cerah setelah mengalami kegelapan (lailan). Israa’ (perjalanan
malam) itu simbol hijrahnya Rasul dan para sahabat ke negeri lain yaitu
Medinah. Melalui hijrah inilah kemenangan Islam (Fatah Mekkah) akhirnya
dapat dirasakan oleh umat Islam (QS 17:81 dan 9:33).
Kini kita hidup 15 abad setelah wafatnya beliau SAW. Kemenangan yang
sejati adalah memenangkan perang terhadap keburukan moral dalam diri
setiap Muslim (jihaadul akbar: jihaadun nafs). Sesuai ayat di atas (QS
17:1) kemajuan umat Islam sangat dipengaruhi oleh kegiatan umat dalam
memakmurkan masjid. Karena dengan memakmurkan masjid maka akan terjadi 2
aktivitas yang strategis: hablum minallah (ibadah kepada Allah) dan
hablum minan-naas (silaturahmi antar umat) sehingga terbuktilah bahwa
umat Islam adalah rahmatal-lil-‘aalamiin.
(ZAKh, Ikd: 10/07/09)
Assalamu’alaikum wr.wb.
Para pembaca yang dimulyakan oleh Allah swt. sesama muslim, Isra’
Mi’raj Nabi Besar Muhammad saw adalah peristiwa penting dalam sejarah
perkembangan Islam, bahkan di negara kita peristiwa ini diperingati
dengan sangat meriah dan hari H-nya dijadikan hari libur nasional.
Namun banyak diantara kita yang hanya puas dengan cerita dan kisah
yang terus menerus tanpa tahu hakekatnya. Selain itu seringkali terjadi
perbedaan yang cukup tajam, mengenai apakah peristiwa itu terjadi secara
jasmani atau rohani.
Tulisan singkat ini mencoba menarik perhatian dan pikiran kita untuk
direnungkan hakikat yang sebenarnya dari peristiwa tersebut supaya kita
dapat mengambil hikmahnya.
Semoga para pembaca menemukan kebenaran. Amin Allahumma Amin!
Wassalam,
Penyusun
Perlu kita renungkan:
Jika peristiwa Isra Mi’raj merupakan peristiwa jasmani Rasulullah saw
naik ke langit bertemu para nabi, mungkinkah seseorang dapat selamat
naik ke atas melewati atmosfir tanpa terbakar serta dapatkah seseorang
yang naik ke atas dengan susunan udara yang sedikit bahkan tanpa adanya
O2 dapat tetap hidup?
Jika Rasulullah Saw. di langit beserta jasad-nya menjadi imam sholat
berjamaah para nabi yang telah wafat (tinggal roh), maka sholat para roh
di belakang orang berjasad apa artinya dan bagaimana cara berdirinya
serta cara sholatnya? Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani
belaka?
Apakah orang yang sudah meninggal masih tetap terkena hukum wajib
seperti kita men-jalankan sholat? Bukankah Rasulullah saw mengatakan
bahwa orang yang telah mati putus amalnya serta kewajibannya?
Jika sholat Nabi saw di langit tsb merupakan sunnah, bagaimana
mungkin umatnya menjalankan sholat sunnah di langit seperti Rasulullah
Saw tersebut?
Jika pemahaman umum menganggap Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi
saw semalam dengan jasadnya, padahal Surat Al Isra’ ayat 60 menyatakan
dengan jelas bahwa (ruya’).Dan Kami tidak menjadikan “ru`ya” yang telah
Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia .. (
Al-Isra :60)
Kita semua sepakat dan tidak menyangkalnya bahwa orang yang bermimpi
itu jelas orang yang sedang tidur! Bukankah hal ini memperkuat keyakinan
kita bahwa peristiwa tersebut adalah pemandangan rohani belaka?
Para mufasirrin sepakat bahwa Surat Al Isra diturunkan sekitar
setengah tahun/setahun sebelum Hijrah dari Mekah ke Madinah dan dalam
surah itu sama sekali tidak menyebut sedikitpun tidak menyinggung
kepergian Nabi saw ke langit, sedangkan Mi’raj dijelaskan pada Surat An
Najm yang diturunkan sekitar tahun ke-5 dan 6 kenabian dan dalam surah
itu tidak menyinggung soal isra.
Apakah Nabi saw menemui Tuhan harus naik ke langit, apa sewaktu di
bumi tidak pernah bertemu dengan Tuhan? Jadi jelas jarak antara turunnya
kedua surat tersebut selisih 6 tahun, maka sesuai saat turunnya kedua
surat tersebut tidakkah urutannya menjadi Mi’raj dulu baru Isra’?.
Menurut pemahaman umum bahwa perintah sholat mulai difardhukan atau
ditetapkan pada peristiwa Mi’raj ketika Nabi saw menghadap Tuhan,
apabila paham ini benar serta dibenarkan pula paham Mi’raj terjadi
ber-sama Isra merupakan satu peristiwa, maka jika demikian halnya
berarti Rasulullah saw beserta umatnya mulai sholat baru sekitar 11
tahun sesudah diutus, apakah sebelumnya Rasulullah saw beserta umatnya
belum menjalankan sholat?
Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw sampai naik turun beberapa
kali agar Allah mengubah perintah shalat 50 kali sehari semalam menjadi
hanya 5 kali. Apakah Allah yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana itu
sebelumnya tidak mengetahui bahwa umat Muhammad saw tidak akan mampu
menjalankan ibadah shalat 50 kali sehari semalam? Naudzubillah min
dzalik! Mengapa Musa lebih mengetahui keberatan umat Nabi Muhammad saw,
bukan Nabi saw sendiri yang kenal langsung umatnya yang mengajukan
keringanan perintah shalat tersebut?
Sebaiknya kita terima paham yang lebih benar bukan sesuatu yang
dirasakan ganjil dengan kisah-kisah yang tidak dapat diterima dengan
akal sehat! Saya tidak menolak ayat2 Alquran tentang Isra dan Mi’raj
juga tdk menolak hadis2 Isra dan hadis2 Mi’raj. Saya hanya mengajak kita
untuk membuka cara pandang baru dan lebih masuk akal sehat dalam
memahaminya.
Dalam hal Nabi saw dibelah dadanya, jantung dikeluarkan, dibersihkan
kemudian diisi dengan iman dan hikmah ditampung dalam bejana emas. Kita
yakin bahwa iman dan hikmah bukanlah benda yang dapat dibawa ditampung
dalam bejana emas dan orang yang dibelah dan dibedah dadanya, jantungnya
dikeluarkan mungkinkah beliau tetap hidup? Lalu yang dicuci di dalam
jantung Nabi saw itu kotoran apa? Apakah masih perlu jantung beliau
dibersihkan dari hal yang belum bersih? Lagi pula apakah tadinya jiwa
Nabi saw itu kosong dari iman dan hikmah?
Bukankah hal ini merupakan pemandangan rohani (kasyaf dan ruya)belaka?
Dalam hadits Nabi saw melihat sungai Nil di Mesir dan sungai Eufrat
di Irak berhubungan dengan 2 sungai sorga, jelas kita mengetahui bahwa
kedua sungai tersebut ada dan bersumber air di bumi. Bukankah hal ini
merupakan peristiwa ru-ya?
Dalam hadits diceritakan pula bahwa Jibril membuka atap rumah Nabi
saw kemudian turun. Mengapa kali iniJibril sampai membuka atap rumah
Nabi saw, padahal bertahun-tahun Nabi saw menerima kedatangan Jibril
tanpa Benarkah atap rumah Nabi saw terbuka? Tidakkah hal ini membuktikan
pemandangan rohani belaka?
Dalam hadits disebutkan bahwa sewaktu Nabi saw Mi’raj bersama Jibril,
Jibril mengetuk pintu langit agar penjaga pintu membukanya! Apakah
langit suatu bangunan atau benda berbentuk gedung yang ada pintunya?
Apakah malaikat penjaga pintu tersebut tidak diberitahu bahwa ada tamu
penting yang akan datang? Tidakkah hal ini membuktikan bahwa semua yang
dialami oleh Nabi saw dalam Mi’raj hanyalah merupakan pemandangan
rohani?
Jika Bouraq yang dikendarai Rasulullah saw berupa kuda dengan kepala
seorang wanita yang cantik ini benar-, seharusnya sekarangpun binatang
tersebut harus ada, ternyata hingga sekarangpun kita semua tidak pernah
melihat ataupun mengenalnya, bukankah hal ini merupakan Dan apakah ada
ayat Al Quran yang menjelaskan tentang binatang Bouraq tersebut?
Dan kita coba melihat arti dan rahasia yang tersimpan di dalam
pemandangan rohani Nabi saw. dalam peristiwa erjalanan Nabi saw dari
Makkah ke Masjidil Aqsha mengandung petunjuk bahwa Nabi saw bakal hijrah
dari Makkah. Surat Al Isra’ ayat 1 yang artinya: “Masjidil Aqsha yang
Kami berkati sekelilingnya”. Pada saat itu di Palestina belum ada
masjidil Aqsha. Arti Masjidil Aqsha adalah masjid yang jauh, jarak
antara Makkah ke Madinah ratusan kilometer. Tidakkah hal ini telah
menjadi kenyataan bahwa Nabi saw benar telah hijrah dari Mekkah ke
Madinah yang diberkati sekelilingnya?
Wassalamu ‘ala manittaba’al huda wa akhiru da’wana anilhamdulillahi rabbil ‘alamin
Kamis, 07 Maret 2013
fungsi akhlak tasawuf
Secara umum fungsi akhlak tasawuf ini dapat dilihat dari dua aspek
yaitu, pertama menyangkut kesejarahan akhlak tasawuf sejak lahir dan
paradigmanya masih tersisa sampai sekarang dan kedua, memotret realitas
fungsi akhlak tasawuf yang ditangkap oleh manusia modern dewasa ini.
Satu persatu akan digambarkan sebagai berikut:
Untuk aspek pertama, yaitu menyangkut kesejarahan akhlak
tasawuf sejak lahir dan paradigmanya masih tersisa sampai sekarang.
Maka akhlak tasawuf akan dapat berfungsi sebagai:
1) Mengembalikan akhlak Rasulullah Saw menjadi acuan kehidupan
sehari-hari umat Islam. Di sini, format akhlak Rasulullah Saw harus
menjadi koridor umat Islam terutama dalam mengarungi lautan
kenikmatan dan kemewahan kehidupan duniawi, agar tidak
kebablasan. Ini bukan harus kembali ke dalam padang pasir seperti
zaman Rasulullah Saw, melainkan agar umat Islam tidak jatuh ke
dalam Lumpur Kenikmatan dan kemewahan duniawi dan
meninggalkan sifat religiusitas dan kesederhanaan mereka. Fungsi
pertama ini mencuat karena setiap kali para elite pemerintahan dan
perekonomian itu diingatkan lewat himbauan keakhlakan Rasulullah
Saw kebanyakan didengar sambil lalu. Akibatnya dari pihak
pengritiknya menjadi mengeras, tidak cair. Para petinggi pemerintahan
dan perekonomian ini lebih komitrnen terhadap “kekuasaan” daripada
dakwah islamiyah (dalam arti teknis).
2) Menyeimbangkan kehidupan duniawi yang serba hingar bingar dengan
kehidupan spiritual yang serba teduh dan hening. Atau dengan kata
lain, memasukan nilai spiritualitas terhadap setiap sektor kehidupan.
Dengan adanya fungsi ini, sebagai misal, mulai popular sebutan “fiqh
sufistik”. Ini terjadi pada masa Al-Ghazali yang mengintroduksi
nuansa sufistik ke dalam fiqh agar pelaksanaan fiqh tidak sekedar
formalisme (yang kehilangan ruh). Spiritualitas, dalam fungsi ini,
diharapkan memberi warna untuk meningkatkan kadar religiusitasnya.
Dunia pemerintahanpun juga mulai diintervensi oleh al-Ghazali
dengan akhlak tasawuf ini dengan cara melayangkan surat-surat
kepada para elitik di pemerintahan. Pada wilayah grass-root (akar
rumput) menyeruak kehidupan tarekat (dengan segala plus minusnya)
agar kehidupan berdasar akhlak tasawuf bisa menjadi imbangan bagi
kehidupan para elitik pemerintahan dan perekonomian. Di sini sudah
terjadi pengkutuban antara “elitik pemerintahan” dengan “populis
kerakyatan” yang aberbasis pada akhlak tasawuf. Untuk aspek pertama
ini terdapat dampak yang kurang menguntungkan pula, yaitu ketika
lembaga tarekat masuk ke wilayah grass-root (akar rumput) secara
luas di tengah-tengah masyarakat. Dampak ini ialah timbulnya prosesproses
elitisasi dalam lembaga tarekat. Di dalamnya mulai menancap
kuat atratifikasi social antara lapisan yang disebut “mursyid” dengan
lapisan yang disebut “murid”. Hubungan dari kedua lapisan ini sangat
vertikal (paternalistik, kebapakan). Dengan demikian ada dua lapisan
social yang nampak, yaitu “pemerintah-rakyat” dan “mursyid-murid”.
Kalangan awam terjepit oleh pengaruh wibawa dua lapisan di atasnya,
yaitu pemerintah (dalam konteks pemerintahan), dengan mursyid
(dalam konteks sosial keagamaannya). Kondisi ini sebenarnya tidak
boleh terjadi, terutama untuk lembaga tarekat. Namun kenyataannya
masih berlangsung sampai detik sekarang ini. Adagium seperti
“kewalian”, “keberkahan”, “kualat”, “karamah”, “weruh sadurunge
winarah” dan sebagainya masih terdengar nyaring sampai detik
sekarang ini. Jika hal ini terus menerus masih terjadi, maka akan
menjadi batu hambatan terkonstruksinya akhlak tasawuf yang lebih
elegan (anggun) dalam menghadapi perbaikan social di zaman global
seperti sekarang ini.
Untuk aspek kedua, akhlak tasawuf berfungsi sebagai:
3) Peneduh jiwa karena hilangnya kebermaknaan hidup dalam zaman
kemajuan ilmu dan tekhnologi. Dalam masyarakat yang sudah maju,
nampaknya mulai timbul kemuakan dan kebosanan serta rasa
kekosongan makna hidup yang luar biasa. Piranti dan servis
kesejahteraan hidup hampir terpenuhi semuanya. Pasar, toko, super
market (bahkan sekarang mulai ada hyper market), mall, ruang
pameran dan sebagainya telah dipenuhi segala macam kebutuhan dan
piranti hidup. Orang-orang modern dewasa ini seolah-olah telah
dimanjakan oleh keadaan. Mereka menjadi merasa kurang tertantang.
Akibatnya kebosanan menjadi-jadi, alam kondisi jiwa dan psikologis
seperti itu nampaknya fungsi Pertama dari aspek ke dua ini menjadi
niscaya. Orang mengatakan hilangnya kebermaknaan hidup ini pasti
mengiringi bagi sebuah proses kemajuan yang secara terus menerus
akan diusahakan dan diraih oleh umat manusia, baik pada masa kini
maupun masa mendatang.
4) Pengeram psikologis dari kehidupan yang diwarnai penuh persaingan
(kompetisi). Dalam suasana seperti itu bagi kelompok manusia yang
merasa kurang kuat dalam bersaing, sementara tuntutan untuk ingin
bersaing juga tidak surut, maka timbullah stress (tekanan psikologis
yang berat). Dalam kondisi orang seperti ini maka akhlak tasawuf
merupakan medium untuk mengendor ketegangan psikisnya. Disinilah
fungsi kedua akhlak tasawuf untuk aspek kedua ini menjadi niscaya.
5) Penguat kesadaran kebersamaan hidup. Pada zaman yang maju dalam
hal ekonomi, ilmu, teknologi rasa keakuan (egoisme) cenderung
menguat tajam. Bisa dikatakan citra individualisme menguasai di
seluruh sector kehidupan. Karena egoisme meninggi, maka rasa
keterancaman menjadi menguat. Orang lain yang sebenarnya menjadi
kawan justru dianggap sebagai lawan atau musuh yang dianggap terus
mengintai yang akan menyerangnya. Dalam kondisi seperti itu
ketegangan psikologis (psychologicaltension) menjadi meninggi, maka
timbullah kecemasan (anxety), bahkan ketakutan (phobia). Karena itu
orang menjadi haus terhadap pemecahan apa yang harus dilakukannya.
Akhlak tasawuf mengajarkan perlunya kesadaran kebersamaan dalam
kehidupan. Bahwa di alam dunia yang fana ini tidak ada orang,
kelompok, bangsa, bahkan Negara yang dapat hidup senang sendiri
dan dapat hidup sendiri. Yang ada adalah adanya saling
ketergantungan (dependency) satu sama lainnya. Jika kesadaran
kebersamaan hidup ini berhasil dihayati dan dibiasakan dalam
kehidupan, maka kecemasan dan ketakutan akan menurun tajam.
Ketika menghadapi orang lain, maka tidak dianggap sebagai lawan
atau musuh yang akan menyeranginya, melainkan sebagai calon kawan
dan teman untuk berbagi pendapat dan perasaan. Falsafah Barat yang
mengintroduksi pandangan individualisme, hak-hak asasi dan “pasar
bebas”, maka orang ingin menguasai sebanyak banyaknya dan kalau
perlu seluruhnya (kemilikan tunggal). Oleh karena itu akhlak tasawuf
cenderung mampu menjadi paying perlindungan akan mampu
berkiprah dalam kondisi seperti ini. Dalam akhlak tasawuf ditekankan
prinsip “keadilan dan kesetaraan”. Dua prinsip ini dalam dunia modern
sekarang ini sering terjadi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan atau
prakteknya.
Ada sebuah tantangan untuk fungsi aspek ke dua akhlak tasawuf,
yaitu adanya opini baru dengan munculnya apa yang disebut “etika
global”. Konsep ini dirilis pertama kali dirilis oleh Hans Kung guru besar
kajian agama di Universitas Tubingen Jerman. Gagasan ini lalu di
deklarasikan dalam forum pertemuan Parlement of the World’s Religions
(Parlemen Agama-agama Dunia). Teks final deklarasi “etika global” ini
ditanda tangani hampir 200 orang delegasi agama-agama dunia. Dalam
menghadapi perkembangan etika global seperti ini, maka sudah
semestinya studi akhlak tasawuf harus bekerja keras agar tidak kalah
lajunya dalam menghadapi perkembangan kemajuan dunia dengan segala
perubahan social yang ada di dalamnya. Adalah tidak dapat diterima kalau
dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Islam (dengan symbol kerasulan
Muhammad SAW) adalah rahmatan lil ‘alamin, lalu daya paying akhlak
tasawuf hanya terbatas lingkupnya untuk umat Islam saja. Parlemen
Agama-agama Dunia ketika merumuskan deklarasi etika global berdasar
kerjasama internasional secara organisatoris yang rapih dan terencana.
Bukan suatu kemustahilan jika umat Islam akan merumuskan Akhlak
Tasawuf untuk memenuhi tuntutan rahmatan lil ‘alamin. Barangkali
kuncinya terletak pada niat bulat, kemauan bekerja keras dan manajemen
kerja secara organisatoris yang rapih dan terencana dengan baik. Inilah
tantangan masa depan akhlak tasaawuf untuk masyarakat dunia modern
seperri sekarang ini ataupun untuk masa depan.
b. Fungsi Khusus
Fungsi akhlak tasawuf secara khusus adalah berkaitan dengan
kesehatan mental atau jiwa manusia. Fungsi tersebut diantaranya adalah :
1) Membersihkan hati dalam berhubungan dengan Allah
Hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk ibadah tidak
akan mencapai sasarannya jika tidak dengan kebersihan hati dan selalu
ingat dengan Sang Penciptanya. Misalnya, dalam shalat. Shalat
diperintahkan Tuhan, karena efeknya adalah mencegah manusia dari
berbuat tidak baik. Efek ini tidak dapat dicapai oleh manusia jika
shalat itu tidak dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan kekhusy’an.
Sebagaimana sabda Nabi:
Artinya: Berapa banyak orang yang berdiri shalat, yang
bagiannya dari shalatnya hanya penat dan letih semata (HR. Baihaqy).
Maksud hadits di atas adalah sesuatu yang menyebabkan
shalatnya sia-sia yaitu karena kekurangan “syarat bathin” dalam shalat.
Syarat bathin itu adalah kebersihan jiwa yang menjadi sumber ikhlas,
khusyu’, dan khudhu’. Dan untuk menumbuhkan yang demikian itu
maka diperlukan mempelajari ilmu akhlak tasawuf.
2) Membersihkan jiwa dari pengaruh materi
Kebutuhan manusia itu bukan hanya pemenuhan tubuh materi
saja, tetapi dia mempunyai bathin yang disebut jiwa yang memerlukan
kebutuhan pula. Tubuh lahir manusia akan merasa puas bila diberi
makanan dengan protein nabati dan hewani, dengan demikian ia akan
sehat. Kebutuhan lahiriyah manusia erat hubungannya dengan jiwanya.
Kebutuhan lahiriyah ini timbul karena adanya dorongan jiwa untuk
mempertahankan dan melindungi tubuh dari berbagai ragam bahaya
yang bisa merusakannya, seperti panas, dingin dan sebagainya yang
berasal dari makhluk hidup lainnya. Untuk melindungi bahaya inilah
pada mulanya manusia berpakaian, memakai senjata dan lain-lain.
Tetapi dewasa ini pakaian bukan lagi digunakan untuk maksud
pertama tadi. Kini pakaian dipakai untuk menjaga gengsi. Karena itu
dipilihlah mode-mode yang terbaru dan termodern. Mode-mode ini
setiap bulan selalu berubah. Begitu pula dengan kebutuhan-kebutuhan
lain seperti rumah, tempat tinggal, mobil, kursi dan alat-alat perabot
lainnya. Orang pun sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan
lahiriyahnya saja. Akhirnya orang lupa diri. Mereka tidak tahu akan
kebutuhan jiwanya lagi, karena memuaskan kebutuhan lahiriyahnya
saja yang dipengaruhi nafsu. Satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan manusia dari godaan materi adalah dengan
membersihkan jiwanya. Jalan untuk itu ialah dengan pelajaran agama,
yaitu pada bidang akhlak tasawuf.
3) Menerangi jiwa dari kegelapan
Jiwa manusia selalu gelisah, sebagaimana firman Allah. Swt:
Artinya: Kami jadikan manusia itu bersifat keluh kesah.
Masalah materi sering menjadi sangat besar pengaruhnya atas
jiwa manusia. Benturan di dalam mencari dan mengejar materi atau
mengejar apa saja yang diinginkan manusia sering menjadi masalah
bagi manusia itu sendiri bahkan kemudian timbul menjadi penyakit.
Penyakit-penyakit seperti resah, cemas, patah hati sebagai akibat dari
masalah-masalah di atas (termasuk di dalamnya sifat-sifat buruk
manusia seperti hasad, takabur dan sebagainya) hanya dapat
disembuhkan dengan obat yang datang dari ajaran-ajaran agama,
khususnya ajaran yang berobyekan bathin manusia yaitu akhlak
tasawuf.
4) Memperteguh dan menyuburkan keyakinan beragama
Hati akan teguh di dalam keyakinannya bila selalu disirami
dengan pelajaran-pelajaran yang bersifat ruhaniyah. Kekuatan umat
Islam di masa rasul bukan karena kekuatan fisik dan senjata, tetapi
ialah pada kekuatan mental dan spiritualnya. Sebaliknya kemunduran
umat Islam di masa keemasannya bukan karena akibat musuh semata,
tetapi karena hidup materialis yang tidak lagi memperhatikan
kebutuhan jiwa. Bila ajaran akhlak tasawuf diberikan pada hamba
Allah akan bertambah subur pula keimanannya. Segala amal perbuatan
akan membuahkan kebaikan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang
lain
5) Mempertinggi akhlak manusia
Dengan memiliki hati yang suci dan bersih dan selalu di sirami
dengan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya maka akan semakin tinggi
akhlak manusia. Ajaran akhlakul karimah atau munjiyat di bahas
secara panjang lebar dalam akhlak tasawuf. Tujuannya adalah untuk
membersihkan manusia dari akhlaqul madzmumah atau al-Muhlikat.
Pembersihan ini dinamai takhalli.
Bila manusia ini telah kosong dari perangai-perangai tercela, maka
memulainya dengan diisi dengan akhlaqul al-karimah (akhlak yang
terpuji) yang disebut takhalli. Takhalli adalah menghiasi pribadi insan
dengan keutamaan-keutamaan (akhlak yang mulia). Bila seseorang telah
dipenuhi perangai-perangai utama, niscaya terbukalah tirai yang
menghalanginya dari kebenaran Illahi. Bila tirai telah terbuka antara
manusia dengan Illahi dapatlah manusia itu mencapai kelezatan beribadah
kepada Tuhannya. Tersingkapnya tirai yang membatasi manusia dengan
Tuhannya dinamakan tajalli.
Aspek moral adalah aspek yang terpenting di dalam kehidupan manusia. Bila
manusia tidak bermoral, maka turunlah martabat dari kemanusiaannya. Inilah
fungsinya mempelajari akhlak tasawuf.
Hal ini supaya manusia tetap menempati martabatnya sebagai manusia yang
ditugaskan Allah Swt menjadi khalifah di muka bumi ini.
Adapun fungsi mempelajari akhlak tasawuf yang sifatnya lebih tekhnis adalah
sebagai berikut:
a) Untuk meningkatkan kemajuan rohani. Dalam hal ini untuk menjaga
kesetabilan mental spiritual dalam menghadapi segala lika-liku
kehidupan, termasuk di dalamnya godaan dan cobaan hidup. Tidak ada
seorangpun di dunia ini yang mampu menghindarkan diri dari godaan
atau cobaan hidup itu. Untuk menghadapinya perlu kestabilan mentalspiritual
yang baik.
b) Untuk menuntun ke arah kebaikan. Dalam kehidupan ini hampir tidak
terhitung apa yang akan dan sudah dikerjakan. Karena itu diperlukan
rambu-rambu agar tidak terjerumus ke dalam tindakan yang keliru.
Sepanjang hidup manusia tidak pernah terhindar dari jurang
kekeliruan, mengingat sehebat-hebatnya manusia tetap saja, berdasar
penjelasan al-Qur’an, diciptakan dalam keadaan atau kondisi dlaif
(lemah).
c) Untuk menopang kesempurnaan iman. Lisan bisa mengatakan “aku
telah beriman”, tetapi dalam prakteknya iman senantiasa naik dan
turun yang disebabkan faktor eksternal yang dialami manusia dalam
kehidupannya. Agar iman seseorang relative stabil, perlu ditopang oleh
pelaksanaan akhlak yang konsisten.
d) Untuk mempertajam tanggung jawab eskatologis. Yang dimaksud
istilah “eskatologi” di sini adalah hal-hal yang menyangkut setelah
mati, seperti hari akhirat dengan segala perangkatnya (dosa, pahala,
surga, neraka dan sebagainya). Tanggung jawab eskatologis ini “lebih
mengancam” daripada sekedar ancaman pengucilan masyarakat,
ancaman hokum dan sebagainya.
e) Untuk mempertajam tanggung jawab sesama dalam kehidupan.
Tanggung jawab ini misalnya tanggung jawab terhadap keluarga,
tetangga, rekan kerja, bangsa dan manusia pada umumnya. Dalam
pelaksanaan tanggung jawab itulah terdapat harga pribadi seseorang,
yaitu apakah diri seseorang itu berguna atau tidak.
f) Untuk menjaga martabat kemanusiaan seseorang. Bahwa dalam diri
setiap orang ada unsur sifat kebinatangan dan kemanusiaan, sifat
kemanusiaan yang menonjol adalah kesadaran untuk menyusun dan
mau tunduk pada peraturan. Dengan peraturan itu lalu lintas pergaulan
menjadi lebih lancar dan tidak gampang menimbulkan salah paham
yang ujung-ujungnya berupa perselisihan bahkan perang. Sedang sifat
kebinatangan hanya berlaku hukum rimba yaitu, siapa kuat dialah yang
menang.
yaitu, pertama menyangkut kesejarahan akhlak tasawuf sejak lahir dan
paradigmanya masih tersisa sampai sekarang dan kedua, memotret realitas
fungsi akhlak tasawuf yang ditangkap oleh manusia modern dewasa ini.
Satu persatu akan digambarkan sebagai berikut:
Untuk aspek pertama, yaitu menyangkut kesejarahan akhlak
tasawuf sejak lahir dan paradigmanya masih tersisa sampai sekarang.
Maka akhlak tasawuf akan dapat berfungsi sebagai:
1) Mengembalikan akhlak Rasulullah Saw menjadi acuan kehidupan
sehari-hari umat Islam. Di sini, format akhlak Rasulullah Saw harus
menjadi koridor umat Islam terutama dalam mengarungi lautan
kenikmatan dan kemewahan kehidupan duniawi, agar tidak
kebablasan. Ini bukan harus kembali ke dalam padang pasir seperti
zaman Rasulullah Saw, melainkan agar umat Islam tidak jatuh ke
dalam Lumpur Kenikmatan dan kemewahan duniawi dan
meninggalkan sifat religiusitas dan kesederhanaan mereka. Fungsi
pertama ini mencuat karena setiap kali para elite pemerintahan dan
perekonomian itu diingatkan lewat himbauan keakhlakan Rasulullah
Saw kebanyakan didengar sambil lalu. Akibatnya dari pihak
pengritiknya menjadi mengeras, tidak cair. Para petinggi pemerintahan
dan perekonomian ini lebih komitrnen terhadap “kekuasaan” daripada
dakwah islamiyah (dalam arti teknis).
2) Menyeimbangkan kehidupan duniawi yang serba hingar bingar dengan
kehidupan spiritual yang serba teduh dan hening. Atau dengan kata
lain, memasukan nilai spiritualitas terhadap setiap sektor kehidupan.
Dengan adanya fungsi ini, sebagai misal, mulai popular sebutan “fiqh
sufistik”. Ini terjadi pada masa Al-Ghazali yang mengintroduksi
nuansa sufistik ke dalam fiqh agar pelaksanaan fiqh tidak sekedar
formalisme (yang kehilangan ruh). Spiritualitas, dalam fungsi ini,
diharapkan memberi warna untuk meningkatkan kadar religiusitasnya.
Dunia pemerintahanpun juga mulai diintervensi oleh al-Ghazali
dengan akhlak tasawuf ini dengan cara melayangkan surat-surat
kepada para elitik di pemerintahan. Pada wilayah grass-root (akar
rumput) menyeruak kehidupan tarekat (dengan segala plus minusnya)
agar kehidupan berdasar akhlak tasawuf bisa menjadi imbangan bagi
kehidupan para elitik pemerintahan dan perekonomian. Di sini sudah
terjadi pengkutuban antara “elitik pemerintahan” dengan “populis
kerakyatan” yang aberbasis pada akhlak tasawuf. Untuk aspek pertama
ini terdapat dampak yang kurang menguntungkan pula, yaitu ketika
lembaga tarekat masuk ke wilayah grass-root (akar rumput) secara
luas di tengah-tengah masyarakat. Dampak ini ialah timbulnya prosesproses
elitisasi dalam lembaga tarekat. Di dalamnya mulai menancap
kuat atratifikasi social antara lapisan yang disebut “mursyid” dengan
lapisan yang disebut “murid”. Hubungan dari kedua lapisan ini sangat
vertikal (paternalistik, kebapakan). Dengan demikian ada dua lapisan
social yang nampak, yaitu “pemerintah-rakyat” dan “mursyid-murid”.
Kalangan awam terjepit oleh pengaruh wibawa dua lapisan di atasnya,
yaitu pemerintah (dalam konteks pemerintahan), dengan mursyid
(dalam konteks sosial keagamaannya). Kondisi ini sebenarnya tidak
boleh terjadi, terutama untuk lembaga tarekat. Namun kenyataannya
masih berlangsung sampai detik sekarang ini. Adagium seperti
“kewalian”, “keberkahan”, “kualat”, “karamah”, “weruh sadurunge
winarah” dan sebagainya masih terdengar nyaring sampai detik
sekarang ini. Jika hal ini terus menerus masih terjadi, maka akan
menjadi batu hambatan terkonstruksinya akhlak tasawuf yang lebih
elegan (anggun) dalam menghadapi perbaikan social di zaman global
seperti sekarang ini.
Untuk aspek kedua, akhlak tasawuf berfungsi sebagai:
3) Peneduh jiwa karena hilangnya kebermaknaan hidup dalam zaman
kemajuan ilmu dan tekhnologi. Dalam masyarakat yang sudah maju,
nampaknya mulai timbul kemuakan dan kebosanan serta rasa
kekosongan makna hidup yang luar biasa. Piranti dan servis
kesejahteraan hidup hampir terpenuhi semuanya. Pasar, toko, super
market (bahkan sekarang mulai ada hyper market), mall, ruang
pameran dan sebagainya telah dipenuhi segala macam kebutuhan dan
piranti hidup. Orang-orang modern dewasa ini seolah-olah telah
dimanjakan oleh keadaan. Mereka menjadi merasa kurang tertantang.
Akibatnya kebosanan menjadi-jadi, alam kondisi jiwa dan psikologis
seperti itu nampaknya fungsi Pertama dari aspek ke dua ini menjadi
niscaya. Orang mengatakan hilangnya kebermaknaan hidup ini pasti
mengiringi bagi sebuah proses kemajuan yang secara terus menerus
akan diusahakan dan diraih oleh umat manusia, baik pada masa kini
maupun masa mendatang.
4) Pengeram psikologis dari kehidupan yang diwarnai penuh persaingan
(kompetisi). Dalam suasana seperti itu bagi kelompok manusia yang
merasa kurang kuat dalam bersaing, sementara tuntutan untuk ingin
bersaing juga tidak surut, maka timbullah stress (tekanan psikologis
yang berat). Dalam kondisi orang seperti ini maka akhlak tasawuf
merupakan medium untuk mengendor ketegangan psikisnya. Disinilah
fungsi kedua akhlak tasawuf untuk aspek kedua ini menjadi niscaya.
5) Penguat kesadaran kebersamaan hidup. Pada zaman yang maju dalam
hal ekonomi, ilmu, teknologi rasa keakuan (egoisme) cenderung
menguat tajam. Bisa dikatakan citra individualisme menguasai di
seluruh sector kehidupan. Karena egoisme meninggi, maka rasa
keterancaman menjadi menguat. Orang lain yang sebenarnya menjadi
kawan justru dianggap sebagai lawan atau musuh yang dianggap terus
mengintai yang akan menyerangnya. Dalam kondisi seperti itu
ketegangan psikologis (psychologicaltension) menjadi meninggi, maka
timbullah kecemasan (anxety), bahkan ketakutan (phobia). Karena itu
orang menjadi haus terhadap pemecahan apa yang harus dilakukannya.
Akhlak tasawuf mengajarkan perlunya kesadaran kebersamaan dalam
kehidupan. Bahwa di alam dunia yang fana ini tidak ada orang,
kelompok, bangsa, bahkan Negara yang dapat hidup senang sendiri
dan dapat hidup sendiri. Yang ada adalah adanya saling
ketergantungan (dependency) satu sama lainnya. Jika kesadaran
kebersamaan hidup ini berhasil dihayati dan dibiasakan dalam
kehidupan, maka kecemasan dan ketakutan akan menurun tajam.
Ketika menghadapi orang lain, maka tidak dianggap sebagai lawan
atau musuh yang akan menyeranginya, melainkan sebagai calon kawan
dan teman untuk berbagi pendapat dan perasaan. Falsafah Barat yang
mengintroduksi pandangan individualisme, hak-hak asasi dan “pasar
bebas”, maka orang ingin menguasai sebanyak banyaknya dan kalau
perlu seluruhnya (kemilikan tunggal). Oleh karena itu akhlak tasawuf
cenderung mampu menjadi paying perlindungan akan mampu
berkiprah dalam kondisi seperti ini. Dalam akhlak tasawuf ditekankan
prinsip “keadilan dan kesetaraan”. Dua prinsip ini dalam dunia modern
sekarang ini sering terjadi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan atau
prakteknya.
Ada sebuah tantangan untuk fungsi aspek ke dua akhlak tasawuf,
yaitu adanya opini baru dengan munculnya apa yang disebut “etika
global”. Konsep ini dirilis pertama kali dirilis oleh Hans Kung guru besar
kajian agama di Universitas Tubingen Jerman. Gagasan ini lalu di
deklarasikan dalam forum pertemuan Parlement of the World’s Religions
(Parlemen Agama-agama Dunia). Teks final deklarasi “etika global” ini
ditanda tangani hampir 200 orang delegasi agama-agama dunia. Dalam
menghadapi perkembangan etika global seperti ini, maka sudah
semestinya studi akhlak tasawuf harus bekerja keras agar tidak kalah
lajunya dalam menghadapi perkembangan kemajuan dunia dengan segala
perubahan social yang ada di dalamnya. Adalah tidak dapat diterima kalau
dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Islam (dengan symbol kerasulan
Muhammad SAW) adalah rahmatan lil ‘alamin, lalu daya paying akhlak
tasawuf hanya terbatas lingkupnya untuk umat Islam saja. Parlemen
Agama-agama Dunia ketika merumuskan deklarasi etika global berdasar
kerjasama internasional secara organisatoris yang rapih dan terencana.
Bukan suatu kemustahilan jika umat Islam akan merumuskan Akhlak
Tasawuf untuk memenuhi tuntutan rahmatan lil ‘alamin. Barangkali
kuncinya terletak pada niat bulat, kemauan bekerja keras dan manajemen
kerja secara organisatoris yang rapih dan terencana dengan baik. Inilah
tantangan masa depan akhlak tasaawuf untuk masyarakat dunia modern
seperri sekarang ini ataupun untuk masa depan.
b. Fungsi Khusus
Fungsi akhlak tasawuf secara khusus adalah berkaitan dengan
kesehatan mental atau jiwa manusia. Fungsi tersebut diantaranya adalah :
1) Membersihkan hati dalam berhubungan dengan Allah
Hubungan manusia dengan Allah dalam bentuk ibadah tidak
akan mencapai sasarannya jika tidak dengan kebersihan hati dan selalu
ingat dengan Sang Penciptanya. Misalnya, dalam shalat. Shalat
diperintahkan Tuhan, karena efeknya adalah mencegah manusia dari
berbuat tidak baik. Efek ini tidak dapat dicapai oleh manusia jika
shalat itu tidak dikerjakan dengan penuh keikhlasan dan kekhusy’an.
Sebagaimana sabda Nabi:
Artinya: Berapa banyak orang yang berdiri shalat, yang
bagiannya dari shalatnya hanya penat dan letih semata (HR. Baihaqy).
Maksud hadits di atas adalah sesuatu yang menyebabkan
shalatnya sia-sia yaitu karena kekurangan “syarat bathin” dalam shalat.
Syarat bathin itu adalah kebersihan jiwa yang menjadi sumber ikhlas,
khusyu’, dan khudhu’. Dan untuk menumbuhkan yang demikian itu
maka diperlukan mempelajari ilmu akhlak tasawuf.
2) Membersihkan jiwa dari pengaruh materi
Kebutuhan manusia itu bukan hanya pemenuhan tubuh materi
saja, tetapi dia mempunyai bathin yang disebut jiwa yang memerlukan
kebutuhan pula. Tubuh lahir manusia akan merasa puas bila diberi
makanan dengan protein nabati dan hewani, dengan demikian ia akan
sehat. Kebutuhan lahiriyah manusia erat hubungannya dengan jiwanya.
Kebutuhan lahiriyah ini timbul karena adanya dorongan jiwa untuk
mempertahankan dan melindungi tubuh dari berbagai ragam bahaya
yang bisa merusakannya, seperti panas, dingin dan sebagainya yang
berasal dari makhluk hidup lainnya. Untuk melindungi bahaya inilah
pada mulanya manusia berpakaian, memakai senjata dan lain-lain.
Tetapi dewasa ini pakaian bukan lagi digunakan untuk maksud
pertama tadi. Kini pakaian dipakai untuk menjaga gengsi. Karena itu
dipilihlah mode-mode yang terbaru dan termodern. Mode-mode ini
setiap bulan selalu berubah. Begitu pula dengan kebutuhan-kebutuhan
lain seperti rumah, tempat tinggal, mobil, kursi dan alat-alat perabot
lainnya. Orang pun sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan
lahiriyahnya saja. Akhirnya orang lupa diri. Mereka tidak tahu akan
kebutuhan jiwanya lagi, karena memuaskan kebutuhan lahiriyahnya
saja yang dipengaruhi nafsu. Satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan manusia dari godaan materi adalah dengan
membersihkan jiwanya. Jalan untuk itu ialah dengan pelajaran agama,
yaitu pada bidang akhlak tasawuf.
3) Menerangi jiwa dari kegelapan
Jiwa manusia selalu gelisah, sebagaimana firman Allah. Swt:
Artinya: Kami jadikan manusia itu bersifat keluh kesah.
Masalah materi sering menjadi sangat besar pengaruhnya atas
jiwa manusia. Benturan di dalam mencari dan mengejar materi atau
mengejar apa saja yang diinginkan manusia sering menjadi masalah
bagi manusia itu sendiri bahkan kemudian timbul menjadi penyakit.
Penyakit-penyakit seperti resah, cemas, patah hati sebagai akibat dari
masalah-masalah di atas (termasuk di dalamnya sifat-sifat buruk
manusia seperti hasad, takabur dan sebagainya) hanya dapat
disembuhkan dengan obat yang datang dari ajaran-ajaran agama,
khususnya ajaran yang berobyekan bathin manusia yaitu akhlak
tasawuf.
4) Memperteguh dan menyuburkan keyakinan beragama
Hati akan teguh di dalam keyakinannya bila selalu disirami
dengan pelajaran-pelajaran yang bersifat ruhaniyah. Kekuatan umat
Islam di masa rasul bukan karena kekuatan fisik dan senjata, tetapi
ialah pada kekuatan mental dan spiritualnya. Sebaliknya kemunduran
umat Islam di masa keemasannya bukan karena akibat musuh semata,
tetapi karena hidup materialis yang tidak lagi memperhatikan
kebutuhan jiwa. Bila ajaran akhlak tasawuf diberikan pada hamba
Allah akan bertambah subur pula keimanannya. Segala amal perbuatan
akan membuahkan kebaikan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang
lain
5) Mempertinggi akhlak manusia
Dengan memiliki hati yang suci dan bersih dan selalu di sirami
dengan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya maka akan semakin tinggi
akhlak manusia. Ajaran akhlakul karimah atau munjiyat di bahas
secara panjang lebar dalam akhlak tasawuf. Tujuannya adalah untuk
membersihkan manusia dari akhlaqul madzmumah atau al-Muhlikat.
Pembersihan ini dinamai takhalli.
Bila manusia ini telah kosong dari perangai-perangai tercela, maka
memulainya dengan diisi dengan akhlaqul al-karimah (akhlak yang
terpuji) yang disebut takhalli. Takhalli adalah menghiasi pribadi insan
dengan keutamaan-keutamaan (akhlak yang mulia). Bila seseorang telah
dipenuhi perangai-perangai utama, niscaya terbukalah tirai yang
menghalanginya dari kebenaran Illahi. Bila tirai telah terbuka antara
manusia dengan Illahi dapatlah manusia itu mencapai kelezatan beribadah
kepada Tuhannya. Tersingkapnya tirai yang membatasi manusia dengan
Tuhannya dinamakan tajalli.
Aspek moral adalah aspek yang terpenting di dalam kehidupan manusia. Bila
manusia tidak bermoral, maka turunlah martabat dari kemanusiaannya. Inilah
fungsinya mempelajari akhlak tasawuf.
Hal ini supaya manusia tetap menempati martabatnya sebagai manusia yang
ditugaskan Allah Swt menjadi khalifah di muka bumi ini.
Adapun fungsi mempelajari akhlak tasawuf yang sifatnya lebih tekhnis adalah
sebagai berikut:
a) Untuk meningkatkan kemajuan rohani. Dalam hal ini untuk menjaga
kesetabilan mental spiritual dalam menghadapi segala lika-liku
kehidupan, termasuk di dalamnya godaan dan cobaan hidup. Tidak ada
seorangpun di dunia ini yang mampu menghindarkan diri dari godaan
atau cobaan hidup itu. Untuk menghadapinya perlu kestabilan mentalspiritual
yang baik.
b) Untuk menuntun ke arah kebaikan. Dalam kehidupan ini hampir tidak
terhitung apa yang akan dan sudah dikerjakan. Karena itu diperlukan
rambu-rambu agar tidak terjerumus ke dalam tindakan yang keliru.
Sepanjang hidup manusia tidak pernah terhindar dari jurang
kekeliruan, mengingat sehebat-hebatnya manusia tetap saja, berdasar
penjelasan al-Qur’an, diciptakan dalam keadaan atau kondisi dlaif
(lemah).
c) Untuk menopang kesempurnaan iman. Lisan bisa mengatakan “aku
telah beriman”, tetapi dalam prakteknya iman senantiasa naik dan
turun yang disebabkan faktor eksternal yang dialami manusia dalam
kehidupannya. Agar iman seseorang relative stabil, perlu ditopang oleh
pelaksanaan akhlak yang konsisten.
d) Untuk mempertajam tanggung jawab eskatologis. Yang dimaksud
istilah “eskatologi” di sini adalah hal-hal yang menyangkut setelah
mati, seperti hari akhirat dengan segala perangkatnya (dosa, pahala,
surga, neraka dan sebagainya). Tanggung jawab eskatologis ini “lebih
mengancam” daripada sekedar ancaman pengucilan masyarakat,
ancaman hokum dan sebagainya.
e) Untuk mempertajam tanggung jawab sesama dalam kehidupan.
Tanggung jawab ini misalnya tanggung jawab terhadap keluarga,
tetangga, rekan kerja, bangsa dan manusia pada umumnya. Dalam
pelaksanaan tanggung jawab itulah terdapat harga pribadi seseorang,
yaitu apakah diri seseorang itu berguna atau tidak.
f) Untuk menjaga martabat kemanusiaan seseorang. Bahwa dalam diri
setiap orang ada unsur sifat kebinatangan dan kemanusiaan, sifat
kemanusiaan yang menonjol adalah kesadaran untuk menyusun dan
mau tunduk pada peraturan. Dengan peraturan itu lalu lintas pergaulan
menjadi lebih lancar dan tidak gampang menimbulkan salah paham
yang ujung-ujungnya berupa perselisihan bahkan perang. Sedang sifat
kebinatangan hanya berlaku hukum rimba yaitu, siapa kuat dialah yang
menang.
Definisi Asbabul Wurud
Secara etimologis ” asbabul wurud ” merupakan susunan idlofah, yang berasal dari kata asbab dan wurud. Kata ” asbab adalah bentuk jama’ dari kata “sabab”, yang berarti segala sesuatu yang dapat mehubungkan pada sesuatu yang lain, (sunan turmudzi dalam kitab thoharoh: 1/151.) atau penyebab terjadinya sesuatu. Sedangkan kata “wurud” merupakan bentuk isim masdar dari waroda, yaridu, wuruudan yang berarti dating atau sampai .(Shohih Bukhori dalam kitabul ilmi: 1/23)
Secara terminologi menurut As-suyuti asbabul wurud diartikan sebagai berikut:
“sesuatu yang menjadi metode untuk menentukan maksud suatu hadits yang bersifat umum, khusus, mutlak, muqoyyad, dan untuk menentukan ada dan tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.(Musnad Ahmad: VI/3)
Jika diteliti secara kritis pendefinisian As-suyuti lebih mengacuh kepada fungsi asbab wurudul hadits yakni, untuk menentukan tahsish dari yang ‘amm (umum), membatasi yang mutlak, serta untuk menentukan ada dan tidaknya naskh dan mansukh dalam suatu hadits dan lain sebagainya Nampaknya kurang tepat jika pendefinisian tersebut dipakai untuk merumuskan pengertian asbabul wurud. Menurut hemat saya perlu menoleh pada pendapat Hasbi as-sidiqi beliau mendefinisikan sebagai berikut:
“Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW.menuturkan firmannya dan masa-masa Nabi SAW.menuturkannya”(Imam Malik, dalam kitab Al-jumah: 1/102).
Sebagian ulama berpendapat bahwa pengertian asbabul wurud mirip dengan pengertian asbabul nuzul
“Sesuatu baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang terjadi pada waktu hadits itu di firmankan oleh Nabi SAW”.(Al-bukhori kitab mawakit as-sholah: 1/346).
Dari ketiga definisi tersebut bisa disimpulkan bahwa asbabul wurud adalah konteks historisitas, baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang lainnya yang terjadi pada saat hadits tersebut di sabdakan oleh Nabi SAW, dapat berfungsi sebagai acuan analisis dalam menentukan apakah hadits tersebut bersifat khusus, umum, mutlak atau muqoyyad, naskh atau mansukh dan lain sebagainya.
Adapun sasaran dalam mempelajari ilmu ini adalah Setiap hadits yang secara tegas mempunyai asbabul wurud.[1]
Menelusuri Makna Leksikal Jihad
Secara etimologis, term jihâd berasal dari kata jahada-yajhadu-juhd/jahd. Para ahli linguistik membedakan definisi jahd dan juhd. Mereka memaknai term juhd dengan “kemampuan” (thâqah), sedangkan jahd dengan “rintangan” (masyaqqah). Ada juga yang mengartikan sebaliknya, yaitu term jahd diartikan sebagai “rintangan”, sedangkan juhd dengan “kemampuan”. Jika dikatakan jahada fî al-amr,
berarti ia akan bersungguh-sungguh dalam urusan tersebut, sehingga
merasa lelah karena berusaha semaksimal mungkin untuk memperolehnya.[7]
Adapun kata juhd juga dapat dipahami sebagai upaya seseorang
untuk tetap bertahan hidup dalam keterbatasannya yang serba sedikit.[8]
Sa‘id al-Asymawi berpendapat bahwa jihad adalah berupaya secara
sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan (badzl al-juhd) untuk mencapai tujuan tertentu. Bersabar dalam keletihan (tahammul al-jahd) ketika menjalankan satu perbuatan atau merealisasikan sebuah misi.[9]
Kata jihâd merupakan derivasi dari kata jâhada-yujâhidu-jihâd/mujâhadah. Secara etimologis, jihâd
berarti “mencurahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menghadapi
segala sesuatu yang berhubungan dengan kesulitan dan penderitaan”.
Dengan begitu, kata jâhada dapat diartikan sebagai “mencurahkan segala kemampuan dalam membela dan memperoleh kemenangan”. Jika dikaitkan dengan musuh, maka frasa jâhada al-‘aduww diartikan
sebagai “membunuh musuh, mencurahkan segenap tenaga untuk memeranginya,
dan mengeluarkan segenap kesungguhan dalam membela diri darinya”.
Dari aspek terminologis, definisi jihad berkisar kepada tiga aspek:
- Jihad yang dipahami secara umum, adalah segala kemampuan yang dicurahkan oleh manusia dalam mencegah/membela diri dari keburukan dan menegakkan kebenaran. Termasuk dalam kategori ini adalah menegakkan kebenaran, membenahi masyarakat, bersunggung-sungguh serta ikhlas dalam beramal, gigih belajar untuk melenyapkan kebodohan, serta bersungguh-sungguh dalam beribadah seperti haji.
- Jihad dipahami secara khusus sebagai mencurahkan segenap upaya dalam menyebarkan dan membela dakwah Islam.
- Jihad yang dibatasi pada qitâl (perang) untuk membela agama untuk menegakkan agama Allah dan proteksi kegiatan dakwah.[10]
Menurut Abû ‘Abd al-Fattâh ‘Aliy ibn Hâj, kata jihâd bukan hanya sebatas mencurahkan segenap kemampuan untuk memerangi orang kafir, malainkan juga mencakup tiga aspek:
- Jihad dalam mempelajari agama, mengamalkan, serta mengajarkannya.
- Jihad dalam melawan setan dengan mencegah hal syubhat yang muncul dari syahwat.
- Jihad terhadap kaum kafir, baik dengan kekuasaan, harta, lisan, maupun hati.
- Jihad terhadap orang fasik, dengan kekuasaan, lisan, dan hati.[11]
Berdasar pada pengertian etimologis dan terminologis dari term jihâd, dapat
dikatakan bahwa secara etimologis, jihad tidak mengandung makna
kekerasan sedikit pun. Lain halnya dengan pengertian terminologis term jihâd, banyak ulama yang mengidentikkannya sebagai tindakan memerangi orang kafir dan musuh.
kebangkitan nasiomal menuju kebangkitan umat
Dan
masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia
(agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan
orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)
(Q.S. Ali-Imran : 140)
Dalam
tesisnya, seorang pengamat barat yang bernama Samuel . E Huntington
mengatakan bahwa peradaban dunia akan mengarah kepada 3 benturan
imperium, yaitu Imperium barat, dalam hal ini diwakili oleh
hagemoni Amerika, Cina dan Islam. Namun, ketika berbicara mengenai
Islam sebagai salah satu saingan barat dalam perang peradaban tersebut
kita disuguhkan sebuah pertanyaan besar tentang Negara mana yang akan
menjadi pelopor kebangkitan Islam?
Melihat perkembangan realitas kontemporer beberapa
tahun ini, Indonesia bisa menjadi salah satu Negara yang berpotensi
untuk menjadi peretas kebangkitan Islam abad ini. Hal ini diperkuat oleh
kunjungan terakhir Ulama besar dunia DR. Yusuf Qardhawi. Dalam
kunjungannya tersebut ke Indonesia DR. Yusuf Qardhawi melihat Indonesia
sebagai dengan penuh harap agar mampu memimpin dunia Islam kembali,
setelah mayoritas dunia Arab dan Islam mengalami kemunduran dalam
memainkan peran efektifnya di kancah internasional.
Hal ini memang bukan sebuah harapan kosong yang tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menguatkan
hal tersebut. Pertama, secara historis Indonesia tidak memiliki sejarah
konflik dengan negara manapun dengan negara-negara Islam di Timur
Tengah yang kebanyakan memiliki konflik dan krisis persengketaan,
seperti Irak, Iran dan Negara-negara timur tengah lainnya. Bahkan
Indonesia banyak berperan dalam mewujudkan perdamaian dalam hubungan
internasional. Hal ini membuat Indonesia mampu menjaga hubungan baik
dengan Negara-negara mana pun. Sebagai contoh, baru-baru ini Indonesia
berusaha menjadi mediator dalam harmonisasi hubungan Syiah-Sunni dengan
mengadakan konfrensi para ulama-ulama dunia di Bogor beberapa waktu
lain. Bahkan rencananya pemerintah Indonesia juga akan mengadakan dialog
untuk mengatasi persengketaan Palestina-Israel yang tak kunjung reda di
Jakarta. Selama ini Indonesia juga sudah banyak berbuat dan mengambil
langkah inisiatif. Di antaranya mengirim pasukan penjaga perdamaian ke
sejumlah negara sejak selama puluhan tahun hingga saat ini. Ini tentu
patut disyukuri.
Yang
kedua, Indonesia merupakan Negara yang oleh Allah SWT diberikan Nikmat
Iman paling besar dibandingkan Negara-negara lain. Hal ini dibuktikan
dengan data statistic bahwa Indonesia merupakan Negara yang memiliki
jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, walaupun Indonesia
bukanlah Negara yang berlandaskan Islam secara konstitusi. Hal ini
memperkuat legitimasi Negara kita bahwa Negara ini memang pantas untuk
menjadi pelopor kebangkitan Islam di dunia. Hal ini juga
tercermin dari seringnya Indonesia melakukan aksi solidaritas terhadap
Negara-negara muslim lain yang mengalami kezhaliman. Lihatlah ketika
Irak diserang oleh Amerika, atau pun ketika Palestina dibombardir oleh
Israel, Indonesia merupakan Negara yang pertama kali merespon hal itu
dengan melancarkan aksi turun ke jalan, dibanding Negara-negara timur
tengah lain yang secara geografis lebih dekat dengan Irak dan Palestina.
Ketiga,
walupun Indonesia memiliki pluralitas atau perbedaan dalam cara
berinteraksi dengan Islam sebagai jalan hidup, hal ini tidak menjadikan
pertentangan yang hebat di internal umat Islam Indonesia. Tidak seperti
di Irak atau Iran, yang sering terjadi perpecahan di antara internal
umat Islam sendiri, dalam hal ini diwakili oleh Syiah dan Sunni, di
Indonesia hal itu tidak terjadi. Justru iklim dan suasana politik dan
budaya di Indonesia mampu membuat islam semakin tumbuh dan berkembang., baik dari segi politik, ekonomi, hokum maupun budaya.
Menghadapi fajar abad dua puluh satu, berbagai tanggapan dan reaksi telah banyak muncul ke permukaan dari
beragam kalangan di Indonesia. Dan belakangan ini perkembangan Islam
sebagai system kehidupan kian tumbuh dengan pesatnya. Runtuhnya
komunisme dan sosialisme yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet, dan
kegagalan ekonomi kapitalis yang menyebabkan krisis multidimensi
berkepanjangan membuat Ekonomi Islam sebagai sebuah system baru yang
diharapkan bisa menjadi solusi kemajua ekonomi saat ini. Lihatlah,
betapa perbankan Islam kini sudah mulai diminati di berbagai lembaga
keuangan di Indonesia. Begitu pun dengan kondisi sosial politik, Kini
para-pemimpin-pemimpin Islam sudah memberikan kredibilitasnya dimata
umat , lalu perlahan-lahan mengambil alaih kepemimpinan umat, pada
sebuah sudut pandang lain, kelompok nasionalis sekuler telah
memperlihatkan kegagalan demi kegagalan. Lihatlah peta politik saat ini,
dimana partai-partai Ilam kemudian muncul menjadi pemenang di beberapa
partarungan politik, baik eksekutif maupun di tataran legislative. Hal
demikian menandakan bahwa bangsa Indonesia cukup antusias dengan apa
yang akan dihadapinya di masa mendatang.
Karena alasan-alasan itu, sepertinya bisa
meyakinkan kita bahwa tahun-tahun mendatang Indonesia bisa menjadi
pelopor kebangkitan Islam di dunia. Sejarah sudah memperlihatkan kepada
kita, bahwa kejayaan Islam pernah dipegang oleh bangsa
Afrika (Mesir) di zaman nabi Yusuf dan Musa, Islam juga jaya di tangan
para suku-susku Arab di Masa Rasulullah SAW, Kejayaan Islam juga pernah
diemban oleh BAngsa Eropa, dalm hal ini oleh Kekhalifahan Turki Usmani.
Dan kini, sudah saatnya kejayaan Islam diemban oleh Bangsa Melayu, dan Indonesia sebagai Negara pelopor kebangkitan tersebut. Insya Allah.
sejarah kejayaan islam
Kejayaan Islam di masa lalu bukanlah ilusi, sebab ia termaktub dalam
turath dan khazanah-khazanahnya. Walaupun tidak semua umat Islam boleh
menikmati khazanah itu ke hadapan mereka karena sebagian besar khazanah
itu dahulu pernah diborong oleh penjajah dan sekarang memenuhi
perpustakaan-perpustakaan raksasa di Barat yang sifatnya tidak semua
orang boleh menyentuhnya.
Umat Islam sejak dua abad terakhir sudah mulai merangkak melihat kembali sejarahnya itu, memperhatikan keunikan-keunikannya, berupaya menyambungkan kembali identitas dirinya dengan sejarah panjangnya melalui kajian-kajian apa adanya. Penelitian-penelitian, seminar-seminar, workshop-workshop secara intensif tentang keislaman tidak bisa dibendung lagi untuk dilakukan, sebab ini adalah hasrat yang kuat dari hati mereka yang mendambakan kejayaan itu wujud lagi di masa depannya. Bagaimana membangkitkan kembali kejayaan Islam?
Pertanyaan ini telah dijawab pada Colloquium Keemasan Islam pada tgl 3 April lalu di Universitas Malaya, Malaysia. Seminar yang bertajuk "Menatap Keemasan Islam dalam Lintasan Sejarah dan Keilmuan dan Relevansinya di Masa Kini" ini adalah hasil kerja sama FUSI PPI UM dengan Institute for the study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) dan Forum Lingkar Pena (FLP) Malaysia.
Acara ini menghadirkan dua panelis sekaligus dari sudut pandang yang berbeda. Dari sudut pandang sejarah hadir seorang pakar sejarah Islam, Alwi Alatas. Sementara dari sudut pandang keilmuan adalah Dr Syamsuddin Arif, peneliti senior INSISTS, yang kerap dijuluki Ibn Sina muda.
Alwi, Ketua FLP Malaysia, menyatakan, bahwa di masa kegemilangan Islam, peradaban-peradaban lain tengah berada dalam kemundurannya. Ia menceritakan betapa jomplang-nya kemajuan di dunia Islam bila dibandingkan dengan kondisi di Barat saat itu.
Sebagai contoh, di masa-masa perang Salib, pernah dokter Kristen yang berasal dari Suriah dikirim ke Eropa untuk membantu mengobati penyakit yang kerap menimpa masyarakatnya. Namun, sang dokter ini hanya bertahan 10 hari di sana, sebab ia telah puas dengan segepok fakta bahwa memang di Barat pengobatan betul-betul terbelakang.
Alwi, yang juga penulis masalah sejarah ini juga menjabarkan bahwa dalam peradaban dunia, manusia cenderung tertipu dengan fisik. Fakta bahwa ketika peradaban sudah besar banyak yang memuja fisik. Mereka bangun patung-patung besar, menara-menara tinggi, patung-patung telanjang, altar-altar tinggi. Tidak hanya itu, mereka terpana dengan kenikmatan dan kelezatan yang dihidangkan peradaban fisik itu. Jangan heran apabila kehancuran peradaban sepanjang sejarah manusia selalu diakibatkan oleh keterlenaan mereka kepada kenikmatan dunia yang menipu mata itu.
"Mereka sering lupa, peradaban hanya perpanjangan tangan manusia dan masyarakat yang dibangunnya, sesuatu yang dibangun untuk memudahkan dan melayani kehidupan manusia," katanya.
Mengutip statemennya Malik Bennabi, Alwi menyatakan bahwa hubungan antara manusia dan peradaban bersifat “resiprokal”. Manusia adalah pembangun peradaban, tapi ia juga merupakan produk peradaban. Namun demikian, manusia tetaplah unsur terpenting dari suatu peradaban, bukan yang lainnya. Dan yang terpenting dari manusia itu adalah jiwanya. Ia kemudian mengaitkan dengan beberapa hujatan al-Quran terhadap mereka yang memuja peradaban fisik dan kemudian mereka dimusnahkan oleh Allah, seperti kaum Aad, Luth, dan lainnya.
Oleh karena itu, untuk membangkitkan semula peradaban Islam adalah dengan membangun manusianya, bukan sekedar fisiknya. Jika manusianya kokoh, maka peradabannya pun akan kokoh, bukan sebaliknya. Untuk membangun manusia yang kokoh, maka bangunlah dari jiwa-jiwanya. Apabila jiwa-jiwanya sudah kokoh, maka fisiknya pun ikut tangguh, dan bukan sebaliknya. Begitulah ajaran Islam bagaimana membangun peradaban.
Dari sudut pandang keilmuan, Dr Syamsuddin Arif, peneliti senior INSISTS mencoba menawarkan konsep learning society untuk membangkitkan kejayaan Islam kembali.
Dengan mengutip statemen Bertrand Russell (b.1872–d.1970), yang pernah menyatakan, "Many people would sonner die thank think.” Pria yang sering dipanggil bang Syam ini menekankan agar jangan menjadi kebanyakan orang yang tak mau mikir.
“Lihat sekarang, para mahasiswa yang hanya bawa kuping aja ke kelas, ke seminar, bawa rekaman, lalu nanti kalau ujian dikeluarkan. Tidak lebih dari pada itu,” ujarnya.
Syamsuddin memperingatkan, dalam konteks sejarah Islam, agar kaum Muslim jangan menjadi atau ikut-ikutan kebanyakan orang. Umat Islam harus beda, harus mengerti masa lalu, dan menguasai masa sekarang serta memprediksi masa depan.
"Those who know the past can predict the future and control the present," ujarnya.
Karena itulah, kata Syamsuddin, dulu Soekarno pernah bilang, "JASMERAH!". Maksudnya, jangan sampai melupakan sejarah.
Syamsuddin menceritakan pengalamannya ketika ia diundang oleh salah satu rekannya jalan-jalan ke Amerika. Di sana mantan santri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini diajak jalan-jalan ke Universitas Columbia. Ketika masuk universitas raksasa ini, ia langsung berhadapan dengan perpustakan utama, yang bentuknya seperti altar Yunani kuno. Nama perpustakaannya Butler Library Columbia. Yang mencengangkan baginya, di sana tertulis delapan nama yang sangat populer dalam khazanah Yunani, yaitu; Homer, Herodotus, Sophocles, Plato, Aristotles, Demosthenes, Cicero dan Vergil. Nama itu dipampang begitu sombongnya di bangunan perpustakaan itu. Padahal, menurutnya, nama-nama itu bukanlah orang Amerika, bukan juga Prancis, ataupun Inggris. Mereka itu nama-nama Yunani kuno. Pertanyaannya mengapa bukan George Washington, Michael Jackson, atau yang lain? Jawabannya adalah mereka ingin menghubungkan tradisi kesarjanaan mereka kepada tradisi Yunani, walaupun tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka.
Menurutnya, yang bisa diambil pelajaran dari hal ini adalah umat Islam tidak boleh terputus dari sejarahnya. Ada banyak pelajaran yang umat Islam sendiri saat ini tidak mempedulikannya. Lebih bangga dengan sejarah orang lain dan melupakan sejarah atau identitas dirinya sebagai orang Islam.
Umat Islam sejak dua abad terakhir sudah mulai merangkak melihat kembali sejarahnya itu, memperhatikan keunikan-keunikannya, berupaya menyambungkan kembali identitas dirinya dengan sejarah panjangnya melalui kajian-kajian apa adanya. Penelitian-penelitian, seminar-seminar, workshop-workshop secara intensif tentang keislaman tidak bisa dibendung lagi untuk dilakukan, sebab ini adalah hasrat yang kuat dari hati mereka yang mendambakan kejayaan itu wujud lagi di masa depannya. Bagaimana membangkitkan kembali kejayaan Islam?
Pertanyaan ini telah dijawab pada Colloquium Keemasan Islam pada tgl 3 April lalu di Universitas Malaya, Malaysia. Seminar yang bertajuk "Menatap Keemasan Islam dalam Lintasan Sejarah dan Keilmuan dan Relevansinya di Masa Kini" ini adalah hasil kerja sama FUSI PPI UM dengan Institute for the study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) dan Forum Lingkar Pena (FLP) Malaysia.
Acara ini menghadirkan dua panelis sekaligus dari sudut pandang yang berbeda. Dari sudut pandang sejarah hadir seorang pakar sejarah Islam, Alwi Alatas. Sementara dari sudut pandang keilmuan adalah Dr Syamsuddin Arif, peneliti senior INSISTS, yang kerap dijuluki Ibn Sina muda.
Alwi, Ketua FLP Malaysia, menyatakan, bahwa di masa kegemilangan Islam, peradaban-peradaban lain tengah berada dalam kemundurannya. Ia menceritakan betapa jomplang-nya kemajuan di dunia Islam bila dibandingkan dengan kondisi di Barat saat itu.
Sebagai contoh, di masa-masa perang Salib, pernah dokter Kristen yang berasal dari Suriah dikirim ke Eropa untuk membantu mengobati penyakit yang kerap menimpa masyarakatnya. Namun, sang dokter ini hanya bertahan 10 hari di sana, sebab ia telah puas dengan segepok fakta bahwa memang di Barat pengobatan betul-betul terbelakang.
Alwi, yang juga penulis masalah sejarah ini juga menjabarkan bahwa dalam peradaban dunia, manusia cenderung tertipu dengan fisik. Fakta bahwa ketika peradaban sudah besar banyak yang memuja fisik. Mereka bangun patung-patung besar, menara-menara tinggi, patung-patung telanjang, altar-altar tinggi. Tidak hanya itu, mereka terpana dengan kenikmatan dan kelezatan yang dihidangkan peradaban fisik itu. Jangan heran apabila kehancuran peradaban sepanjang sejarah manusia selalu diakibatkan oleh keterlenaan mereka kepada kenikmatan dunia yang menipu mata itu.
"Mereka sering lupa, peradaban hanya perpanjangan tangan manusia dan masyarakat yang dibangunnya, sesuatu yang dibangun untuk memudahkan dan melayani kehidupan manusia," katanya.
Mengutip statemennya Malik Bennabi, Alwi menyatakan bahwa hubungan antara manusia dan peradaban bersifat “resiprokal”. Manusia adalah pembangun peradaban, tapi ia juga merupakan produk peradaban. Namun demikian, manusia tetaplah unsur terpenting dari suatu peradaban, bukan yang lainnya. Dan yang terpenting dari manusia itu adalah jiwanya. Ia kemudian mengaitkan dengan beberapa hujatan al-Quran terhadap mereka yang memuja peradaban fisik dan kemudian mereka dimusnahkan oleh Allah, seperti kaum Aad, Luth, dan lainnya.
Oleh karena itu, untuk membangkitkan semula peradaban Islam adalah dengan membangun manusianya, bukan sekedar fisiknya. Jika manusianya kokoh, maka peradabannya pun akan kokoh, bukan sebaliknya. Untuk membangun manusia yang kokoh, maka bangunlah dari jiwa-jiwanya. Apabila jiwa-jiwanya sudah kokoh, maka fisiknya pun ikut tangguh, dan bukan sebaliknya. Begitulah ajaran Islam bagaimana membangun peradaban.
Dari sudut pandang keilmuan, Dr Syamsuddin Arif, peneliti senior INSISTS mencoba menawarkan konsep learning society untuk membangkitkan kejayaan Islam kembali.
Dengan mengutip statemen Bertrand Russell (b.1872–d.1970), yang pernah menyatakan, "Many people would sonner die thank think.” Pria yang sering dipanggil bang Syam ini menekankan agar jangan menjadi kebanyakan orang yang tak mau mikir.
“Lihat sekarang, para mahasiswa yang hanya bawa kuping aja ke kelas, ke seminar, bawa rekaman, lalu nanti kalau ujian dikeluarkan. Tidak lebih dari pada itu,” ujarnya.
Syamsuddin memperingatkan, dalam konteks sejarah Islam, agar kaum Muslim jangan menjadi atau ikut-ikutan kebanyakan orang. Umat Islam harus beda, harus mengerti masa lalu, dan menguasai masa sekarang serta memprediksi masa depan.
"Those who know the past can predict the future and control the present," ujarnya.
Karena itulah, kata Syamsuddin, dulu Soekarno pernah bilang, "JASMERAH!". Maksudnya, jangan sampai melupakan sejarah.
Syamsuddin menceritakan pengalamannya ketika ia diundang oleh salah satu rekannya jalan-jalan ke Amerika. Di sana mantan santri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini diajak jalan-jalan ke Universitas Columbia. Ketika masuk universitas raksasa ini, ia langsung berhadapan dengan perpustakan utama, yang bentuknya seperti altar Yunani kuno. Nama perpustakaannya Butler Library Columbia. Yang mencengangkan baginya, di sana tertulis delapan nama yang sangat populer dalam khazanah Yunani, yaitu; Homer, Herodotus, Sophocles, Plato, Aristotles, Demosthenes, Cicero dan Vergil. Nama itu dipampang begitu sombongnya di bangunan perpustakaan itu. Padahal, menurutnya, nama-nama itu bukanlah orang Amerika, bukan juga Prancis, ataupun Inggris. Mereka itu nama-nama Yunani kuno. Pertanyaannya mengapa bukan George Washington, Michael Jackson, atau yang lain? Jawabannya adalah mereka ingin menghubungkan tradisi kesarjanaan mereka kepada tradisi Yunani, walaupun tidak ada hubungannya sama sekali dengan mereka.
Menurutnya, yang bisa diambil pelajaran dari hal ini adalah umat Islam tidak boleh terputus dari sejarahnya. Ada banyak pelajaran yang umat Islam sendiri saat ini tidak mempedulikannya. Lebih bangga dengan sejarah orang lain dan melupakan sejarah atau identitas dirinya sebagai orang Islam.
A. Konsep Dasar Konseling Trait and Factor
1. Pandangan tentang Manusia.
Manusia
merupakan sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan antara satu
dengan lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan temperamen.
Perkembangan individu mulai dari masa bayi sampai dewasa diperkuat oleh
interaksi sifat dan faktor. Telah banyak dilakukan usaha untuk menyusun
kategori individu atas dasar dimensi sifat dan faktor. Studi ilmiah
yang telah dilakukan adalah : (a) mengukur dan menilai ciri ciri-ciri
seseorang dengan tes psikologis, (b) mendefinisikan atau menggambarkan
keadaan individu, (c) membantu individu untuk memahami diri dan
lingkungannya, (d) memprediksi keberhasilan yang mungkin dicapai pada
masa mendatang.
Manusia berusaha untuk menggunakan
pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi
pengembangan potensinya. Manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik
atau buruk. Makna hidup adalah mencari kebenaran dan berbuat baik serta
menolak kejahatan. Menjadi manusia seutuhnya tergantung pada
hubungannya dengan orang lain.
2. Asumsi Pokok Pendekatan Konseling Trait and Factor.
Karena setiap individu sebagai suatu pola
kecakapan dan kemampuan yang terorganisir secara unik, dan karena
kemampuan kausalitasnya relatif stabil setelah remaja, maka tes obyektif
dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik-karateristik
individu. Pola-pola kepribadian dan minat berkorelasi dengan tingkah
laku kerja tertentu. Kurikulum sekolah yang berbeda akan menuntut
kapasitas dan minat yang berbeda dan hal ini dapat ditentukan. Individu
akan belajar dengan lebih mudah dan efektif apabila potensi dan bakatnya
sesuai dengan tuntutan kurikulum. Baik klien maupun konselor hendaknya
mendiagnosis potensi klien untuk mengawali penempatan dalam kurikulum
atau pekerjaan. Setiap individu mempunyai kecakapan dan keinginan
untuk mengidentifikasi secara kognitif kemampuannya sendiri.
3. Pandangan tentang Kepribadian.
Kepribadian merupakan suatu sistem yang
saling tergantung dengan sifat dan faktor, seperti kecakapan, minat,
sikap, dan temperamen. Perkembangan kepribadian manusia ditentutan oleh
faktor pembawaan dan lingkungan. Setiap individu ada sifat-sifat yang
umum dan ada sifat-sifat yang khusus, yang merupakan sifat yang unik.
Unsur dasar dari struktur kepribadian disebut sifat dan merupakan
kecenderungan luas untuk memberi reaksi dan membentuk tingkah laku yang
relatif tetap. Sifat (trait) adalah struktur mental yang dapat diamati untuk menunjukkan keajegan dan ketepatan dalam tingkah laku.
B. Tujuan Konseling Trait and Factor
Konseling trait and factor bertujuan: (1)
membantu individu mencapai perkembangan kesempurnaan berbagai aspek
kehidupan manusia; (2) membantu individu dalam memperoleh kemajuan
memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan
kelemahan diri dalam kegiatan dengan perubahan kemajuan tujuan-tujuan
hidup dan karir; (3) membantu individu untuk memperbaiki kekurangan,
tidakmampuan, dan keterbatasan diri serta membantu pertumbuhan dan
integrasi kepribadian; dan (4) mengubah sifat-sifat subyektif dan
kesalahan dalam penilaian diri dengan mengggunakan metode ilmiah.
Langganan:
Postingan (Atom)